Jumat, 22 November 2013

Miris, Penyumbang Emas PON Itu Kini 'Ngojek'

Inilah contoh nyata dari perilaku tidak menghargai insan olahraga atau atlit yang dengan dedikasi dan pengorbanannya pernah berhasil mengharumkan nama daerah dalam sebuah kejuaraan bergengsi. Bayangkan saja, Ujang Robi, seorang peraih medali emas cabang olahraga gantole PON 2012 Riau, ajang yang belum lama berlalu, nasibnya kini sungguh membuat kita harus mengelus dada.
Bagaimana tidak, Demi menghidupi satu orang istri dan empat orang anak Ujang harus bekerja sebagai tukang ojek!. Ya, penyumbang emas PON itu kini ngojek di kawasan Bukit Gantole dengan penghasilan kotor hanya Rp 50 ribu per hari.
Parahnya lagi, Atlit berprestasi yang berujung jadi tukang ojek tidak cuma Ujang. Kondisi serupa juga dialami peraih medali emas gantole Porda 2010, Ayat Supriatna, yang juga terpaksa menjadi tukang ojeg motor.
Kenyataan tersebut memang diakui oleh Ketua Persatuan Layang Gantung Indonesia (PLGI) Kabupaten Bogor, Wawan Haikal Kurdi. Dia mengakui itu namun juga berkilah bahwa Pengcab tak lagi miliki daya untuk memberikan bantuan lebih dari yang mereka telah terima saat ini.
"Mereka terpaksa menjadi tukang ojeg karena tak punya pekerjaan tetap. Kami pengcab berusaha membantu, tetapi tak berdaya. Sebab, tak memiliki wewenang untuk memberikan perkerjaan. Semua itu ada di tangan KONI dan pemerintah, yang harusnya memperhatikan," kata Wawan.
Wawan lantas menceritakan jika Ujang sampai pernah berencana untuk menjual hadiah rumah dari pemerintah Jawa Barat (Jabar), demi memperbaiki keadaan ekonominya. "Begitu juga dengan Ayat, awal mula ia ingin pindah ke Jabar adalah untuk memperbaiki keadaan ekonominya. Tetapi ternyata tak ada perubahan," jelasnya.
Wawan menegaskan, seharusnya sebagai atlet yang telah mengharumkan nama daerah, pemerintah setempat memperhatikan mereka. "Mereka hanya mengeluhkan tentang pekerjaan saja. Pemerintah harusnya memperhatikan, jangan hanya memperhatikan ketika ada event olahraga saja," ucapnya.
Lebih lanjut, kata dia, sebenarnya kedua atlet tersebut telah ditawari untuk membela Kabupaten Bekasi dalam Porda 2014 mendatang. Tetapi, karena kecintaannya terhadap Kabupaten Bogor mereka memilih bertahan. "Mereka itu putra daerah Kabupaten Bogor, keduanya menolak. Nah, sekarang tinggal bagaimana respon dari pemerintah untuk menyikapi loyalitas keduanya. Ya, KONI dan Dispora tak boleh pilih kasih terhadap cabor, kasihan kan mereka," keluhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar